ShareThis

Sabtu, 17 Oktober 2015

Personal 15 : Di Saat Dollar Tidak Menentu


Beberapa bulan terakhir ini, aku (Eve) lagi ngalamin masalah yang cukup bikin kepikiran sepanjang waktu yaitu masalah keuangan. >.< Aku tahu memang akhir-akhir ini juga temen-temen dan orang-orang sekitar banyak yang menghadapi masalah yang sama. Ada temenku yang curhat sampai nggak bisa bayar listrik. Untung aku masih bisa bayar, tapi tetep aja aku nggak bersyukur, tetep panik. Padahal sebetulnya dalam masalah keuangan ini, aku masih dikasih Tuhan buat jalan-jalan, karena ada saudaraku yang bayarin buatku.

Tapi tetep aja setelah balik dari liburan, aku mulai stress lagi. Kayaknya semua cara uda dilakukan buat selesaiin masalah ini, tapi entah kenapa selalu ujungnya mentok. Rasanya bukan membaik, malah tambah parah. Masalahnya sebenernya nggak terlalu berat (aku masih bisa makan, masih bisa bayar tagihan internet, masih bisa pergi kemana-mana) cuma karena masalahnya udah berbulan-bulan dan kelihatannya nggak ada jalan keluar, lama-lama aku jadi stress sendiri. Khawatir banget, gimana kalau sampai seumur hidup 'melarat' kayak begini. Jujur, rasanya jadi males buat ngapa-ngapain. Jenuh dan bosan, buat tidur aja rasanya males. Males besok musti bangun dan ngadepin masalah yang sama.

Aku ngerti secara teori, nggak usah khawatir karena Tuhan bilang Dia yang akan pelihara hidupku, nggak mungkin ditinggalkan dengan keadaan seperti ini sampai seumur hidup. Tapi ketika uda berbulan-bulan masih nggak selesai-selesai juga aku meledak. Dibilang marah sebenernya enggak, tapi aku nangis dan nuntut ke Tuhan. "Tuhan, Engkau bilang kan kamu Bapaku, turun tangan dong, masa ayah lihat anaknya penuh masalah gini Engkau nggak tolongin. Aku datang minta tolong sebagai anak, kalau bukan lari ke Bapaku aku musti minta tolong siapa lagi." Di situ aku uda betul-betul putus asa. Karena semua cara uda aku lakuin, tapi tetep nggak nemu jalan keluarnya. Dan aku merasa ditinggal sendirian nggak ada yang bisa tolongin aku. Bahkan Tuhan kok rasanya nggak tolongin.

Tapi Tuhan punya cara buat ngejawab, bukan dikasih milyaran dollar atau dikasi emas permata, tapi jawabannya unik. Banyak orang yang tanya gimana Tuhan ngomong ke kita, banyak orang pikir, mungkin Tuhan ngomong audible di telinga. Tapi Tuhan punya banyak cara buat ngejawab, dan ini salah satunya.

Jadi aku dimintai tolong oleh gerejaku buat jadi penerjemah salah satu pembicara luar. Sebenernya uda pengen banget nolak, karena aku not in the mood untuk menerjemahkan. Lagipula, aku ini nggak terlalu punya pengalaman nerjemahin orang, karena di gerejaku orang yang buat nerjemahin memang kurang, mau nggak mau, aku yang disuruh. Bisa Bahasa Inggris dan bisa menerjemahkan adalah dua hal yang SANGAT berbeda. Ditambah hatiku lagi capek, jadi ngapa-ngapain rasanya males. Pengennya ikut ibadah aja dan dengerin kotbah dengan tenang. Cuma karena memang waktu itu lagi nggak ada orang lain yang bisa jadi penerjemah, jadi dengan terpaksa aku mengiyakan. Aku inget banget aku sampai ngomong ke Ai Ni, aduh aku males banget nih terjemahin, tapi mau gimana lagi.

Dan benar waktu menerjemahkan aku merasa bener-bener kacau. Waktu itu pembicaranya punya aksen Bahasa Inggris yang agak kental, jadi aku agak susah nangkep maksudnya. Belum lagi dia ngomongnya cepet banget, sampe rasanya aku nggak ada jeda untuk nafas. Aku merasa aduh aku ngomong apa sih, sampe setengah jalan rasanya pengen angkat tangan dan bilang ke temenku yang lain, "gantiin aku dong, uda nggak sanggup terjemahin nih, capek." Tapi nggak mungkin di tengah-tengah ibadah aku ngomong seperti itu, pasti semua pikir aku agak 'kurang normal' haha. Jadi aku tetep lanjutin sampai selesai, yang aku percaya aku bisa cuma karena anugrah Tuhan.

Ketika sudah selesai (Puji Tuhan akhirnya selesai juga >.<), pembicaranya tiba-tiba samperin ke aku dan bilang, "Terimakasih ya, kamu menerjemahkannya luar biasa sekali, saya sangat diberkati." Aku langsung bengong, kaget, dan cuma bisa bilang, "Enggak, saya hari ini kacau sekali, Bapak nggak ngerti Bahasa Indonesia makanya Bapak bilang bagus, coba kalau Bapak ngerti pasti tau saya ngomongnya kacau banget." Karena aku memang udah nggak tau ngomong apa waktu terjemahin, otakku blank!

Dan tiba-tiba pembicara ini ngeluarin sesuatu dari kantongnya, mungkin sapu tangan, namanya Bapak-bapak pasti punya sapu tangan, tapi ternyata uang dollar, memang nggak banyak tapi lumayan bisa buat beli ayam goreng buat makan ramai-ramai. Otomatis aku langsung menolak. Aku seumur-umur nggak pernah denger ada pembicara yang kasih penerjemahnya uang. "Jangan, ini pelayanan saya, saya nggak mau dibayar." Tapi dia lanjut bilang, "enggak, enggak kamu luar biasa sekali, cara kamu menerjemahkan penuh dengan semangat, saya sangat diberkati. Saya melihat ada pancaran sukacita dari mata dan senyummu, dan itu sangat memberkati saya. Bahkan kalau saat ini saya punya hadiah kecil, kotak kecil apapun yang bisa saya kasih, saya akan kasih ke kamu. Ketika lihat kamu, saya seperti melihat putri saya sendiri. Saat ini saya cuma punya uang ini, jadi tolong diterima."

Aku bengong dan nggak tahu ngomong apa, kemudian dia juga bilang, "banyak orang yang sering terjemahin kotbah saya tapi saya merasa ada yang berbeda dari cara kamu menerjemahkan."

APA??? Aku terjemahinnya kacau banget dan Bapak bilang cara saya terjemahin bagus? Mungkin Bapak lagi eror kali atau lagi kenapa...

Tapi tiba-tiba Tuhan seperti berkata ke aku "Nak, kamu lihat, orang ini baru pertama kali ketemu dan kenal kamu aja nggak, tapi dia mau kasih kamu uang. Apalagi Aku Bapamu di surga, masa Aku nggak mau kasih kamu uang? Masa Aku lihat kamu susah Aku nggak mau tolong? Mana mungkin kamu lagi kesulitan Aku nggak mau jawab, jangan pernah ragukan kasihKu sebagai Bapa ke kamu. Kamu putriKu."

Aku putri-Nya Tuhan yang punya langit dan bumi, tapi aku beberapa bulan ini ngerengek-rengek kayak bayi, nggak tahu diri dan manja.

Waktu aku dengar seperti itu rasanya ada yang menembus tepat di jantung. Aku langsung kepingin nangis, tapi malu kalau langsung nangis di depan Bapak bule itu. Jadi aku tahan air mataku (nangisnya nanti kalau udah pulang ke rumah pas sendirian aja, lebih enak).  Aku bilang ke Beliau, "Terimakasih banyak Pak, saya bisa merasakan kasih Tuhan lewat Bapak." Dia tepuk pundak aku, dan dia bilang dia mau berdoa buat aku.

Ini sudah terjadi sekitar beberapa minggu yang lalu. Dan masalahku sampai saat ini masih belum selesai, tapi entah kenapa seperti ada beban berton-ton yang diangkat dari hidupku. Cara Tuhan jawab aneh-aneh. Dia nggak kasih aku duit yang banyak karena aku tau, masalah ini sudah bukan masalahku sendirian. Aku punya seseorang yang bisa aku andalkan yaitu Bapaku di surga. Dia yang jamin masalah ini akan selesai pada waktunya dan masa depanku penuh harapan. Dan itu bikin hatiku jadi sangat tenang. 

Minggu depannya di gereja, aku langsung ceritain ke temen-temenku. Aku tau akhir-akhir ini banyak yang lagi punya masalah keuangan. Waktu aku cerita ini, ada temenku yang matanya berkaca-kaca bilang ke aku. "Eve, aku juga ngalamin masalah yang sama. Thank you buat sharingnya. Ternyata Tuhan nggak tinggalin aku."

Aku seneng waktu ceritaku bisa nolong orang lain. Aku sebetulnya bukan orang yang suka cerita ke orang-orang tentang masalah pribadiku. Malu banget kasih tau 'seluruh dunia' tentang 'masalah aku lagi miskin, nggak punya duit' >.<. Aku pengennya kelihatan baik-baik aja, kelihatan OK, dan nggak ada masalah, (kalau bisa kelihatan seperti orang kaya :P). Aku lebih suka nutupin masalah ini dan aku simpen sendiri. Tapi aku merasa Tuhan baik banget sama aku, dan aku pengen cerita ke semua orang, Tuhan ITU BAIK!!!

Dollar dan keadaan ekonomi sedang nggak menentu. Orang-orang yang punya uang dan simpanan pada bertanya-tanya simpan apa? Beli apa? Beli dollar, rupiah, atau investasi dimana? Semua orang bingung.

Nah kalau orang yang sedang nggak punya uang simpanan, untuk makan sehari-hari aja pas-pasan mau investasi dimana coba?

Aku ingat dulu sekitar beberapa tahun lalu, aku ngomong sama temenku yang jual asuransi, aku tanya, "asuransi di tempatmu aman nggak? Aku ngeri simpen uang di asuransi, nanti setelah beberapa tahun uangku hilang atau gimana... Jadi sebelum aku masuk asuransi aku tanya dulu yang bener."

Temenku jawab dengan lihainya, "Semua asuransi, uang, tabungan, atau investasi apa aja pasti ada resikonya. Nggak ada jaminan yang pasti. Cuma ada satu asuransi yang paling aman."

Aku bengong dengerin. Asuransi apa? Aku mau daftar.

Dia lanjurin omongannya, "asuransi Kerjaan Surga."

LOL. LOL Aku ketawa. Tapi omongannya memang bener, yang punya uang bertanya-tanya dan bingung mau simpen dimana? Yang nggak punya uang bingung mau makan apa? Semuanya pasti ada masalah dan kebingungan sendiri.

Cuma yang pasti lebih baik kumpulin harta di surga, dimana ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya (Mat 6:20).

Tuhan nggak kasih aku uang banyak buat jawaban doaku, karena Tuhan tahu, manusia dikasih uang berapapun banyaknya pasti tetap khawatir, bingung, dan banyak yang hidupnya malah nggak beres. Tuhan kasih aku janjiNya, biar aku hidup bukan karena uang, tapi karena janji Tuhan dalam hidupku. Kalau Tuhan kasih aku langsung uang yang banyak, pasti aku terus harapin uang, bukan harapin Tuhan (lama-lama bisa jadi mata duitan!).

Sekarang aku tahu, Tuhan sedang mendidikku, seperti seorang Bapak mendidik anaknya. Walau ada masalah seperti apa, aku tahu, uang bukan jalan keluar dan nggak pernah jadi jalan keluar.

Jalan keluar dalam hidupku hanya Tuhan.

Aku harap ceritaku bisa jadi penyemangat buat kalian-kalian juga yang lagi hadapin masalah. Baik itu besar atapun kecil. Kalau kita uda nggak punya lagi siapa-siapa untuk dimintai tolong, panggil Tuhan, sampai waktunya Tuhan pasti akan angkat kita. Jangan takut, percaya saja :)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar