ShareThis

Minggu, 01 Januari 2017

Personal 22: 2016 - The Year of Dying


Di awal tahun 2016 ada nubuatan yang bilang, banyak orang penting yang akan meninggal di tahun ini. Waktu kita denger itu sih oh gitu toh, antara percaya nggak percaya. Ternyata nubuatan itu nggak salah, tahun ini banyak banget yang meninggal, dari awal tahun kita udah sering melayat, ada 10 orang yang kita tahu yang meninggal. Salah satu yang bikin kita shock adalah 2 pemimpin gereja kita yang selama ini kita selalu ikutin perjalanannya dan kasih dampak ke kita dengan kotbahnya. Sama sekali nggak nyangka karena orangnya terlihat masih sehat dan masih ok banget. Di awal tahun tesebut, terasa banget rasa kehilangan.

Waktu itu Ai Ni sedang tidur dan Mama bangunin Ai Ni, kemudian kasih tahu salah satu pendeta tersebut meninggal. Ai Ni setengah sadar tanya, siapa Ma? Itu pendeta yang biasa kita denger kotbahnya. Ai Ni cuma bengong. Nggak nangis, nggak apa-apa, nggak ada perasaan apa yang terasa.

Sedangkan Eve, Mama, dan Papa berkali-kali ngomong, terasa banget ya kehilangan, rasanya ada yang kosong ya, kangen kotbahnya ya, pengen ketemu lagi ya, kehilangan sosok pemimpin ya ... Eve dan Mama juga kadang-kadang bisa nangis mikirin Beliau. 
Sedangkan Ai Ni cuma diam. Nggak terlalu banyak ngomong atau sebut-sebut pendeta tersebut.
Setelah beberapa minggu berlalu Eve bilang ke Ai Ni, "Lo nggak sedih ya? Kok lo nggak kelihatan sedih sih?" Waktu Eve ngomong begitu Ai Ni cuma diam, Ai Ni nggak jawab apa-apa. 

Beberapa bulan berlalu, Eve dan Mama suka buka-buka lagi kotbah lamanya dari Youtube, sering ngomong-ngomong lagi tentang pendeta tersebut, cerita-cerita lagi tentang dampak hidupnya buat orang-orang. Sedangkan Ai Ni sama sekali nggak pernah dengerin lagi kotbahnya, nggak pernah lagi baca bukunya, dan nggak pernah lagi sebut namanya. 

Kemudian setelah akhir tahun ini, Ai Ni ngomong ke Eve, "Lo inget nggak dulu lo pernah bilang, kok lo kelihatan nggak sedih sih saat tahu pendeta itu meninggal. Waktu lo ngomong gitu gua juga nggak nyangka kenapa gua nggak ada emosi apa-apa."
Eve cuma diem terus ngeliatin Ai Ni.
Ai Ni lanjutin ngomong, "Gua baru sadar, cara orang grieving (berduka) itu ternyata beda-beda." 
Eve masih diem.
Ai Ni lanjutin, "kalau lo sama Mama nangis dan ngomongin terus, kalau gua biar rasa sakit itu nggak muncul gua nggak mau ngomongin, gua nggak mau sebut lagi, gua nggak mau inget-inget lagi. Itu cara gua berduka."
Eve tetep diem dan ngeliat Ai Ni.
Ai Ni kemudian nyambungin, "gua juga nggak tahu ternyata cara gua berduka kayak gitu. Selama ini kan belum pernah ada orang yang bener-bener deket sama kita meniggal. Setelah 9 bulan gua mikirin pertanyaan lo, kenapa gua nggak nangis ya, ternyata cara gua berduka begitu."

Jadi setelah hampir 9 bulan, Ai Ni baru sadar kenapa selama ini dia nggak pernah ngomongin pendeta itu lagi, nggak mau lagi denger kotbahnya atau baca bukunya, dan selalu pura-pura nggak denger kalau orang-orang ngomong tentang pendeta itu... Dari luar orang ngelihatnya, Oh mungkin Ai Ni nggak sedih seperti yang Eve bilang. Tapi ternyata setelah 9 bulan Ai Ni juga baru sadar, ternyata cara Ai Ni berduka begitu.

Kadang-kadang kita ini nggak tahu sifat kita seperti apa, kita mikir kita orangnya begini, tapi ternyata ketika ada sesuatu kejadian dalam hidup, sifat asli kita baru ketahuan. Ada sebuah statement yang bilang, mau tahu sifat asli orang tersebut? Lihat orang tersebut ketika diberikan kekuasaan dan ketika ada di bawah tekanan. Sifat aslinya baru keluar.

Saat kita awal-awal kenal Tuhan, hidup kita ini berubah banget, dari yang keluarganya sering ribut, sakit-sakitan, nggak punya uang, banyak masalah, tiba-tiba semua jadi lancar. Apa yang kita lakuin semua diberkati Tuhan, apa yang kita buat berhasil, lancar, dan gampang, semua orang deket kita juga bilang bahwa keluarga kita banyak berubah dan terheran-heran. 

Waktu itu, kita merasa Tuhan baik, memang orang yang ikut Tuhan nggak pernah Tuhan tinggalin, selalu Tuhan berkatin.

Kita tahu banget bahwa hidup kita dulu yang berantakan diberesin sama Tuhan, yang hidupnya begitu-begitu aja, jadi lebih baik, dari yang pas-pasan jadi berkelimpahan. Kita selalu kesaksian ke orang-orang semua karena Tuhan, kita semua kaya begini karena Tuhan, maka itu ikut Tuhan, nanti Tuhan kasih berkat kelimpahan. 

Ada keluarga kita yang hidupnya berantakan terus kita bilang, makanya ikut Tuhan, nanti kamu diberkati. Kamu nggak ikut Tuhan, makanya hidupnya berantakan. Kita ini dulu juga hidupnya kaya kamu, tapi sekarang Tuhan udah ubahkan. Kamu ngutang sana-sini, kamu males nggak kerja sih makanya kamu nggak punya uang. Jadi orang tuh harus kerja dan banyak doa, kalau nggak hidupnya nggak ada berkat. 

Luar biasa banget ya hidup kita, diubah Tuhan, jadi kesaksian, jadi berkat buat orang-orang. Kita kirimin uang tiap bulan buat keluarga yang susah tersebut sambil berpikir dalam hati, mereka harusnya lebih rajin berusaha, kerja keras, doa, dll.

Waktu dalam awal masa-masa tersebut, kita selalu doa yang suci banget, "Tuhan, Engkau kasih kita begini banyak, jaga hati kita Tuhan. Kalau semua kelimpahan ini bikin kita bepaling dari Engkau, kita lebih baik nggak punya apa-apa daripada kita kehilangan Engkau." Itu awal-awal hidup kita naik luar biasa. 

Setelah beberapa tahun hidup seperti itu, sadar nggak sadar kita merasa kita ini suci, kita ini paling kudus, maka Tuhan sayang kita, temen-temen kita keluarganya banyak masalah, kita nggak ada masalah. Semua kita pikir karena Tuhan sayang kita, hidup kita rajin ke gereja, baca Alkitab nggak pernah bolong, rajin pelayanan, kesaksian, juga nggak pacaran sembarangan dimana ketika temen-temen kita yang katanya sama-sama ke gereja, tapi pacarannya nggak beres, dll. 

Perasaan lebih baik itu munculnya perlahan-lahan, dan sama sekali nggak terasa. Seperti kanker, nggak kelihatan gejala apa-apa, tapi sebenernya menghancurkan secara pelahan-lama. Tiba-tiba semua perasaan "saya ini baik" itu mulai berakar di hati. Saya ini baik maka itu Tuhan sayang saya.

Mulainya dari tahun 2015, Tuhan mulai goncangin semuanya. Semua yang kita kerjain mulai berantakan. Padahal kita bukan orang males, kita ini pekerja keras, rajin kerja, jarang istirahat. Ada waktu kosong pelayanan, ke gereja, ke KKR, baca Alkitab, semua uang kita yang kita punya kita kasih ke Tuhan, kita nggak pernah punya tabungan, karena Tuhan selalu suruh kita nabur, berikan, kasih orang dll. Kita hampir nggak ada pernah waktu santai atau liburan. Kita merasa Tuhan udah baik sama kita, kita nggak mau buang-buang waktu kita buat hal yang nggak penting. Kita mau kerja lebih keras buat berkatin orang. Kita tempelin brosur-brosur di depan meja kerja kita yang isinya brosur tentang orang-orang yang kekurangan, biar kita termotivasi bisa kasih mereka lebih banyak lagi. 

Jadi lanjut ceritanya, semua berkat yang Tuhan berikan mulai mepet, hampir nggak ada. Semua kerjaan yang kita kerjain ketemu jalan buntu. Seberapa keras kita bekerja, seberapa keras kita berdoa, pelayanan, semuanya nggak ada hasil. Kita coba cari jalan kesana-sini, semuanya gagal. Bener-bener gagal. Waktu ktia berdoa, rasanya kering. Tuhan kayanya nggak ada. Biasanya kalau masuk kamar, berdoa, hadirat Tuhan itu kerasa banget. Kalau ke gereja rasanya seneng. Sekarang semua rasanya kalau ke gereja males luar biasa, karena kalau ke gereja ngerasa nggak ada Tuhan. Tuhan nggak muncul. Semua kotbah rasanya gitu-gitu aja, bosen. Baca Alkitab mulai jadi beban.

Tahun 2015 akhir, Heidi Baker datang ke Indonesia. kita ikut KKR nya, kita sama sekali nggak tahu Heidi Baker dateng ke Indonesia, tapi malem-malem Eve pulang dari gereja jam 12 bilang ke Ai Ni, besok pagi ada KKR Heidi Baker, mau ikut nggak. Itu mendadak banget, nggak nyangka. 

Jadi sekitar sebulan sebelumnya Ai Ni ketemu kotbah di Youtube tentang Heidi Baker. Kita nggak tahu siapa dia, tapi dari kotbahnya ada satu banget yang kena kita, dia cerita, dia punya pelayanan di Mozambique, dia punya gelar tinggi buat nolongin kemiskinan orang-orang di sana. Setelah bertahun-tahun pelayanan di sana. Pelayanannya makin lama makin hancur dia selalu berusaha bekerja lebih keras, lebih muter otak, lebih cari cara sana-sini, cari dana sana-sini, tapi semua cuma ketemu jalan buntu. Sampai satu titik dia udah nggak kuat, kemudian pengen menyerah. Suatu hari Tuhan bilang suruh dia stop pakai kekuatan dia sendiri. Tuhan buat semua kerjaan yang dia lakuin nggak berbuah, malah "mati". Setelah semua pelayanan dia udah di jalan buntu dan habis-habisan, setelah semua 'ilmu'nya yang dia pakai nggak ada hasil, dia nyerah, dan Tuhan kemudian bekerja luar biasa.    
                                                                                                                                   
Di acara KKR nya luar biasa banget, semua orang bener-bener dilawat Tuhan. Waktu pulangnya jam 11 (masih nggak mau pulang sebenernya), setelah altar call (altar call adalah ketika di akhir acara, pendetanya manggil semua orang yang mau didoain ke depan). Ai Ni maju ke depan dan kemudian nggak bisa gerak, bener-bener lemes, jalan aja nggak bisa, sampai pulangnya musti ngerangkul Eve. Sama sekali nggak ngerti kenapa, cuma tahu karena hadirat Tuhan bener-bener luar biasa. Biasanya Ai Ni nggak pernah ngalamin yang kaya gini, kalau altar call yah biasa aja, paling cuma nangis (makanya kita butuh mascara waterproof LOL). Tapi kali ini lain, Ai Ni nggak bisa gerak dan nggak bisa ngomong sama sekali karena badan rasanya lemes. 

Tahun 2016 akhir ada acara KKR lagi, kali ini acara KKR Bill Johnson, dari sesi acara tersebut, tiba-tiba ada acara tambahan, yaitu istrinya disuruh Tuhan untuk juga ngisi acara mendadak sehingga acara KKR tersebut jadi lebih panjang. Istrinya kotbah banyak hal, salah satunya yang kena buat Ai Ni adalah kesaksian istrinya. Tuhan suruh istrinya Bill, yaitu Beni Johnson sebagai pendoa syafaat, istrinya bilang dia nggak mau jadi pendoa syafaat karena dari kecil dia udah lihat jadi pendoa itu nggak enak. Stress nya banyak. Tiba-tiba dalam satu acara kebaktian, seluruh tubuhnya goncang luar biasa sampai nggak bisa terkontrol. Dia kaget kenapa dia ngalamin manifestasi seperti ini. Setelah itu Tuhan ngomong, "Beni semua dalam hidupmu Aku goncangkan, Aku ganti yang baru. Semua pikiran lamamu aku ubah." Akhirnya Beni tahu Tuhan memang punya panggilan hidupnya jadi pendoa, Beni kemudian tulis buku The Happy Intercessor, jadi pendoa yang bahagia. Tuhan mau kasih tau, kalau ikut Tuhan jangan pakai pikiran manusia, karena kamu pernah lihat orang jadi pendoa nggak bahagia bukan berarti kamu nggak bahagia. Akhirnya sekarang dia hidup dalam panggilannya, jadi pendoa yang bahagia. 

Waktu Beni ngomong begitu, tiba-tiba Ai Ni sadar (itu hampir 1 tahun kemudian, kenapa di acara Heidi Baker, Ai Ni nggak bisa gerak dan lemes banget). Tuhan mau bilang. Tahun 2016 adalah tahun kamu nggak bisa apa-apa, tahun pruning (pemangkasan), tahun 'kematian', tahun dimana semua yang kamu lakukan gagal dan habis. Memang dari bulan Januari sampai Desember bulan ini, semua yang kita berdua lakuin nggak ada buahnya, gagal, berantakan, hancur, dan nggak beres. Jadi satu tahun ini kita cuma banyak diam. Di tahun 2015 akhir Tuhan udah kasih tanda kenapa seluruh badan Ai Ni lemes dan nggak bisa gerak, bahwa tahun 2016 nanti adalah tahun dimana semua yang kamu merasa bisa akan diberhentiin, 'dimatiin', sampai kamu nggak bisa apa-apa. 

Karena kita sebelumnya suka kerja dan sibuk, jadi tahun ini tuh tahun yang susah banget buat kita, daging kita ini nggak bisa diam, pengen cari cara, cari usaha buat kerja lebih keras, buat berusaha sana-sini, tapi tetep aja semuanya mentok. Di saat seperti itu, Iblis bisikin kita terus, kamu sih kurang kerja keras, kamu kurang berdoa, Tuhan udah nggak peduli, Tuhan udah nggak sayang, kamu kurang rajin, kamu kurang pelayanan. 

Tahun ini bener-bener susah dilewatin, kita cuma kebanyakan diam seperti tanpa harapan, seperti 'digantung-gantung' tanpa kepastian.

Masalah luar biasa banyak, dulu yang kita suka kesaksian sana-sini tentang hidup kita yang dipakai Tuhan, jadi nggak pernah banyak ngomong lagi. Kita lebih banyak diem, kalau ada orang kesaksian, cerita masalah hidup, kita cuma diem, dengerin mereka daripada 'kotbah' sana-sini.

Di akhir tahun 2016 ini, baru beberepa minggu ini. Ini hasil yang kita dapetin, setelah satu tahun seolah-olah "digantung-gantung" nggak jelas sama Tuhan. Kelihatannya nggak jelas, tapi bulan ini Tuhan kasih jawaban.

Di buku Waiting Together, Penulisnya Carol Kent adalah seorang pembicara Kristen yang dihormati sampai suatu hari anaknya masuk penjara. Sejak itu hidupnya berubah. Ada cerita di bukunya, suatu hari ketika dia berkunjung ke penjara untuk menengok anaknya, ada seorang wanita nangis, teriak-teriak, dan marah-marah. Carol Kent kalau dulu bilang, dia akan ngeluarin ayat Alkitab tentang penderitaan dan doain orang ini, tapi sekarang yang dia lakuin adalah mendekati perempuan itu, merangkulnya, dan nangis bareng. Dia nggak keluarin kotbah atau ayat Alkitabnya. Dia cuma nangis dengan wanita itu. Dalam detik itu, dua wanita yang nggak saling kenal sama-sama saling mengerti kesakitan masing-masing dalam hidup.

Setelah baca buku itu beberapa hari kemudian (di bulan ini), Ai Ni chatting sama temennya yang udah lama nggak ketemu. Temen tersebut bilang, "Ai Ni, kamu tahu nggak pasangan pendeta A dan B itu yang dulu jadi pemimpin kita cerai loh. Tapi ternyata mereka selama ini nggak nikah cuma hidup bareng. Nggak ada yang tahu. Sekarang mereka udah punya pacar baru lagi. Gila ya, manusia tuh topengnya banyak." Pendeta tersebut adalah salah satu pemimpin gereja ketika kita masih remaja.

Tiba-tiba waktu temen Ai Ni ketik begitu Ai Ni cuma diem.

Kalau Ai Ni yang dulu, Ai Ni yang tahun lalu bakal bilang, "Iya gila mereka, bisa-bisanya jadi pemimpin tapi kok begitu. Kita harus hati-hati tuh, banyak orang ngaku cinta Tuhan tahunya hidupnya kacau." Blah blah blah...

Terus Ai Ni akan ngomong ke semua orang, 'berkedok kesaksian' bahwa pasangan A & B itu blah blah blah dan keluarin ayat Alkitab tentang perzinahan segalam macem.

Ai Ni yang sekarang cuma diem dan balas ngetik, "Kesian ya mereka, mungkin ada masalah yang ktia nggak tahu. Pisah cerai bukan hal yang gampang. Orang nggak ada masalah nggak mungkin cerai." Dalam hati timbul suatu compassion, belas kasihan sama mereka berdua yang pisah itu. sama sekali nggak ada pikiran mereka tukang bohong, kurang doa, tukang tipu, yang ada cuma perasaan apa mereka baik-baik aja. Are they okay?

Pada detik itu juga, Ai Ni ngerasa Tuhan langsung ngomong, "Ai Ni lihat, kamu udah berbeda, tahun lalu kamu sifatnya jelek kaya apa, tahun ini, Aku matiin kesombongan kamu, Aku hancurin semua yang kamu bisa, Aku korek-korek semua kekotoran kamu sampai kamu nggak sadar bahwa kamu udah berubah kan."

Kejadian itu baru beberapa hari. Tuhan kemudian ingetin lagi cerita di Alkitab ini.

Yohanes 8:2-11
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Di ayat 10, ayat kesukaan kita, Tuhan tanya dengan bahasa sehari-hari, "Mbak, orang-orang yang mau hukum kamu dimana?" Tuhan nggak ngomong kamu ini nggak tahu diri, kamu ini banyak dosa, pantes mati. Tuhan malah basa-basi dulu, "yang hukum kamu dimana?" Jelas-jelas Tuhan tahu yang mau menghukum perempuan itu pada pergi.

Tuhan berbeda sama orang Farisi, orang Farisi itu suka merasa dirinya benar, suka merasa dirinya baik. Saya yang paling benar, saya sering berdoa, saya hafal hukum Taurat, saya cinta Tuhan, nggak berzinah, nggak mencuri, dll... Itu orang Farisi.

Bisa lihat cerita ini. Tuhan ngajarin kita berdua di akhir tahun ini hal tersebut.
Kita berdua dulu selalu merasa diri benar, kita rajin ke gereja, kita cinta Tuhan, kita baca Alkitab, nggak banyak dosa yang aneh-aneh, nggak pacaran sembarangan.

Itu bukannya sama kaya orang Farisi? 

Di tahun 2016 ini, semua yang 'kita bisa lakuin' diambil Tuhan, tiba-tiba mata kita kebuka, selama yang kita merasa bisa lakukan ternyata nggak pernah bisa apa-apa. Semuanya juga karena anugerah. Bukan karena kita kerja keras, bukan karena kita ke gereja, bukan karena kita cinta Tuhan, tapi karena Tuhan punya compassion sama kita, punya grace (anugerah), punya cintaNya sama kita. Bukan karena kita jago, bukan kita bisa, bukan kita hebat, bukan karena kita sering berdoa, bukan karena kita rajin baca Alkitab, tapi semua karena Tuhan sendiri. Hanya karena berkat yang terus ngalir, kita sadar nggak sadar baru tahu ternyata sifat kita begini. Mirip orang Farisi. Nggak ada belas kasihan, cuma ada menghakimi orang. Lihat sepupu yang susah, cuma mikir, mereka berdosa, nggak cinta Tuhan, hidupnya ngawur. Lihat temen yang ganti-ganti pacar, pacaran nggak bener, mikir mereka nggak hidup kudus, mereka nggak memuliakan tubuhnya, lihat orang yang sakit-sakitan dalam hati bisa timbul perasaan, mereka pasti banyak dosa sehingga sakitnya banyak. Lihat orang nyuri, kita pikir mereka nggak tahu malu nyuri.

Pikiran itu nggak muncul terang-terangan, tapi ada di hati paling kecil kita, yang sebenarnya kita nggak sadar itu sebenernya ada dan jadi penyakit dalam karakter.

Sekarang lihat sepupu kita yang hidupnya susah, kita cuma merasa rasa sakit di dada, ngelihat mereka kok susah banget ya, mereka juga udah kerja keras, tapi kerjaan mereka banyak ditipu orang. Kita kerja keras bisa berhasil karena Tuhan yang jaga setiap kerjaan kita, sehingga kita nggak pernah ditipu orang.

Ngelihat temen yang pacaran ganti-ganti terus, sekarang mikir, mungkin mereka kesepian, orang tuanya di rumahnya berantakan jadi dengan pacaran bisa nutupin sakit kekosongan hidupnya. Belum tentu kalau kita di posisi temen kita, kita juga nggak melakukan hal yang sama. Kita nggak ganti-ganti pacar, karena kita ada keluarga yang sama-sama saling dukung dan doain, kalau kita nggak punya siapa-siapa mungkin kita juga akan ngelakuin hal tersebut.

Ngelihat orang yang sakit sekarang cuma pengen peluk mereka. Selama ini kita hidup sehat bukan karena kita jaga makan, olah raga, tapi karena Tuhan yang jaga badan kita dari sakit, kecelakaan, atau masalah lain.

Lihat temen nyuri kas gereja, tiba-tiba ngerasa pasti hidupnya susah banget sampai harus nyuri. Pasti mungkin ada masalah banget, sampai nggak tahu harus gimana lagi. Tuhan yang selalu kasih kita berkat, buat kita nggak perlu hidup sampai harus terpaksa nyuri.

Sekarang kita lihat, semua cuma anugerah. 100% Anugerah.

Tuhan hancurin semua keakuan kita, semua ke Farisian kita, semua kesombongan yang kita pikir itu bukan kesombongan (nggak ada satu temen pun yang bilang kita sombong, banyak yang bilang kita rendah hati, tapi setelah Tuhan buka begini, kita baru tahu sifat asli kita). Kedoknya cinta Tuhan, tapi sebetulnya menghakimi orang. Tanpa belas kasihan.

Tapi setelah 'sekolah bersama Tuhan di tahun ini 2016' ini, kita bisa lihat kenapa Tuhan habisin semua daging kita, keakuaan kita, kebisaan kita. Memang ikut Tuhan itu pasti banyak berkat, tapi Tuhan lebih peduli karakter kita daripada berkat-berkat yang akhirnya bikin kita hancur berantakan.

Baru-baru ini Eve denger kotbah tentang Ayub di Alkitab, kemudian dia ngomong, "Ai Ni tahu nggak kenapa Ayub harus dihabisin Tuhan."
"Udah tahulah, itu cerita udah sering banget gua denger, karena Tuhan mau Ayub lebih kuat, tes imannya. Bosen banget ceritanya," Ai Ni jawab tanpa basa-basi (namanya juga kakak adik LOL).
Eve tetep lanjut ngomong, "soalnya ya, fondasi Ayub itu tuh udah mentok, dia udah sampai begitu-begitu aja berkatnya, Tuhan nggak bisa nambahin lagi. Maka itu Tuhan habisin semuanya dulu. Lihat setelah habis dia baru naik level baru lagi kan, Tuhan baru bisa tambahin dia semua yang lebih baik. Misalnya nih kaya kita kan mau bangun rumah kemarin itu, kita nggak bisa bangun rumah kita 10 lantai, karena fondasi rumah kita cuma paling mentok bisa tahan 3 lantai, kalau kita bangun 10 lantai rumah kita rubuh. Jadi kalau mau bangun 10 lantai, harus hancurin dulu semuanya, perkuat fondasinya, harus diulang lagi dari awal."
Kemudian Ai Ni senyum-senyum, "keren juga cerita lo, gua nggak pernah denger versi gitu, hehe."

Tuhan habisin dulu semua yang nggak beres di hidup kita, sama kaya tukang tanaman, potong dulu semua ranting-ranting yang udah mati, biar tanaman tersebut lebih lebat lagi. Sama seperti operasi juga, belek dulu kulit luarnya, kemudian baru bisa diberesin dalemnya. Sakitnya? Nggak usah ditanya lagi, yang pernah operasi tahu, sakit bangetttt. Tapi kalau nggak dioperasi bisa mati. Kadang-kadang Tuhan harus operasi hidup kita, buat beresin dalemnya. Kelihatannya Tuhan kejam, tapi Tuhan mau beresin semua yang nggak beres.

Di bukunya Beyond the Veil ada satu quote yang akan nutup cerita kita kali ini. Nothing develops humility more than failure. Tidak ada yang bisa membuat orang lebih rendah hati lebih daripada kegagalan. Kerendahan hati nggak bisa dibuat-buat, nggak bisa dibikin-bikin. Nggak bisa pura-pura muncul.
Tahun ini adalah tahun dimana Tuhan kasih kita 'kegagalan demi kegagalan', karena dengan begitu kerendahan hati baru bisa muncul.

Happy New Year 2017:)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar